Meski berkali-kali
Kau menjatuhkan, aku tak akan pernah berada dalam kesedihan. Bukankah Engkau menciptakan
kekuatan baja mengelilingi retakan disekujur tubuhku? Meski cacian di lempar ke
mukaku, aku tak akan pernah menyerahkan impian-impian yang susah payah
kuperjuangkan. Bahkan meski berkali-kali sakit merumah di dadaku, aku tak akan
pernah membiarkan siapapun juga mengambil alih hidupku.
Aku tahu. Engkau
sengaja mengujiku. Ingin tahu seberapa besar keinginanku untuk menang.
But, i’m not a
loser, God.
Meski Kau sengaja
menyenggalkan nafas, aku tak akan begitu saja terhempas. Aku tak pernah meminta
satuan semacam perhatian, sebab hal-hal semacam itu bukan tabiatku. Aku lakukan
sendirian sampai titik darah penghabisan. Akan tetap kulakukan meski Kau masih
juga mendorongku untuk jatuh lebih dalam, aku lebih percaya itu bagian dari
penundaan.
Kebahagiaan, dan
semua yang belum Kau kabulkan pasti sudah Kau susun dengan begitu sempurna di
akhir cerita.
Meski Kau membawa
seribu alasan untuk membuatku meninggalkan-Mu, tak kan pernah membuat jalanku
menyimpang. Sebab aku tahu, Kau tebing paling kokoh. Kau tetap menjadi bahu
paling nyaman, atau peluk paling hangat untuk ku berdiam. Maka, teruskanlah
membuatku merasa ingin mencicipi kematian.
Karena sampai separuh nyawaku pun Kau ambil, aku tetap jadi yang paling
hebat bertahan.
Meski sendirian, meski sendirian.
Iya, meski semua
orang melihatku dengan hinaan, atau meludahiku dengan penuh kebencian aku tetap
tak akan pernah menyilangkan aturan. Ketahuilah,
Tuhan...... aku hamba-Mu yang paling percaya dengan keajaiban dan
naskah-Mu, skenario Tuhan yang begitu sempurna.
Musikalisasi puisi
:

No comments:
Post a Comment