Thursday, June 21, 2012

Aku bersama Cita-citakuu ^^



hari ini aku resmi menjadi mahasiswa baru di fakultas kedokteran Universitas Muhammadiyah Jakarta…
ciiyeehh..aku seneeeng bngt ^o^

Akhirnya perjuanganku memasuki FK membuahkan hasil.
Berbagai rasa bergemuruh di dalam dadaku. Rasa ini bercampur baur. Aku senang, bahagia, tetapi juga takut.
Kenapa??
Aku takut akan berada di suatu tempat yang tidak kukenal bersama orang 
- orang yang tidak kukenal yaah itu karna aku menuntut ilmu di luar pulau Kalimantan tempat tinggal ku tercinta tapi sejauh mana pun aku menuntut ilmu toh aku yakin aku bisa menjalaninya dengan semangat dari orangtua ku tercinta juga motivasi dari semua teman-teman, guru dan yg lain intinya aku hanya ingin membuat mereka bangga, bahagia bahkan kalo bisa terharu dengan menitikkan airmata.. hihihi #lebay deeh.. :D

Aku hanya berdoa agar bisa menjalankan tugas belajarku baik dan benar nantinya.
 Perjalanan ke sana terasa begitu panjang, aku sudah tidak sabar untuk menjalankan tugasku nantinya. xixixii

in memoriar:
saat itu seorang guru yang juga berprofesi menjadi dokter di sekolah ku bertanya.. masih teringat jelas cara beliau menyampaikan dan pertanyaan itu sendirii..
 Adakah diantara kalian di kelas ini yang ingin jadi dokter, membantu masyarakat dengan tulus tanpa balas dan bersedia mengabdi seumur hidupnya   
?? tanya ibu Caca memecah keheningan kelas ketika semua siswa siswinya sedang sibuk mencatat apa yang sedang diterangkannya dengan seksama.

terang saja semua teman-teman ku terdiam.
Entah mengapa, tiba-tiba tiba ibu caca menanyakan pertanyaan itu. Lalu aku mengangkat tanganku dan kukatakan aku ingin menjadi dokter buu, semua teman 
- temanku terheran - heran kepadaku..  mungkin yang ada dipikiran mereka wwaah gue aja kagag bakal sanggup dah mengabdi seumur hidup, apa kata dunia lantas kenapa lidya mauu??


 Apakah hanya Lidya yang ingin jadi dokter, tanya ibu caca lagi.

Tidak ada yang bersuara lagi keheningan tetap saja terjadi, teman 
- temanku tetap diam dan ibu caca pun akhirnya juga diam tanpa 1 katapun lagi.
terlihat diwajahnya, dari raut muka guruku itu terlukis suatu kesedihan.
setelah itu aku tak pernah melihat guru ku itu lagii entah dimana dia sekarang.. Aku dan semua teman 
- temanku hanya bisa menangis dengan air mata dan ucapan terima kasih karena telah mengajar kami dengan ikhlas karna kami tau dia menyempatkan waktu bersama kami di tengah kesibukannya bergelut di dunia kesehatan, aku sangat salut dan bangga padanya.
Setelah itu aku hampir tidak pernah bertemu ibu caca lagi. Tapi entah kenapa ada sesuatu yang masih menggelitik rasa keingintahuanku kenapa ketika ibu caca bertanya soal cita 
- cita menjadi dokter dan  semua teman - temanku tidak berminat menjadi dokter.
Suatu ketika pada saat istirahat aku bertanya kepada seluruh teman 
- teman mereka ingin jadi apa.
Banyak sekali diantara teman 
- temanku yang ingin jadi guru, insinyur, polisi dan berbagai profesi lain tetapi saat itu yang ingin menjadi dokter jumlahnya bisa dihitung dengan sebelah jumlah jari tanganku. Lalu kutanyakan kepada salah seorang temanku ,
Sinta, mengapa semua teman ku tidak berminat menjadi dokter.

 Aku bingung, mengapa semua teman sekelas kita termasuk kamu tidak mau menjadi dokter, ta 
??, tanyaku pada sinta yang sama skali tak mendengar ocehanku.

 Kau ini, ya, kau tahu sendiri kalau dokter itu biayanya mahal , masuknya susah dan hanya orang terpilih saja yang bisa memasuk’i nya, hidupnya susah dan pekerjaannya pun berat salah-salah kau lah yang mampus serta tak ada lah kita yang sanggup seumur hidup mengabdikan diri.. jawab Sinta singkat.

Memangnya pekerjaan dokter itu berat, sesusah apa sih? Toh kalo di pikir-pikir bila dibandingkan dengan menjadi seorang guru, kurasa tugas dokter lebih ringan dan mulia karena dokter menyembuhkan orang-orang yang sakit bahkan terkadang ikhlas tulus tanpa pernah meminta balas jasa, muia hatinya .
Hidup seorang dokter itu benar 
-benar diabdikan bagi pekerjaannya, seperti ibu caca yang juga berprofesi sebagai dokter.
 Aku ingin menjadi dokter seperti beliau yang mengabdikan hampir semua hidupnya bagi masyarakat dan bisa membagi ilmunya juga di bidang pendidikan dan tak pernah sedikitpun memikirkan dirinya yang ada di benaknya hanyalah kesehatan dan keadaan masyarakat, jawabku.

aduuh ya..yaa.. Kenapa sih kamu ? kamu sakit? Atau Otak kamu lagi error ya, kamu benar 
- benar sudah gila jika kamu mau jadi dokter aku tau kamu siswa yang paling pandai juga pintar di kelas ini aku tau kamu dari dulu tak pernah bergeser dari juara kelas kalaupun bergeser pasti cuma mundur ke dua bahkan selalu mengikuti lomba cerdas cermat, dan jugaa dokter kecil, kamu the best ya nilai-nilaimu pun bahkan di atas rata-rata semua sempurna paling kecil 9 atau 8 lah.. tapi kamu pikir lagi doong. Ibu kamu guru, dan ayah kamu juga pengawas dinas pendidikan sama juga lah kaya demikian, naah..kenapa kamu mau menjadi dokter, kenapa gak ngikut’in jejak beliau aja ?, tanya Sinta kesal.

 Pokoknya aku ingin jadi dokter. Aku ingin seperti bu caca, jawabku sengit nada kesel.

Kalau menurutku lebih enak jadi guru tau yaa, masa depan lebih terjamin, bahkan ada tunjangan bila pension nanti itung-itung buat jaga-jaga di masa tua. meskipun Kau tahu banyak guru yang harus nyambil ngojek karena penghasilannya tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarganya tapi mereka pun tetap semangat dan tulus menjalaninya. Aku pun ingin jadi guru jawab Sinta lagi.

Setelah itu Sinta pun berlalu. Sinta merasa telah menang dariku. Aku mulai mempertanyakan kembali apa yang sebenarnya yang membuat aku ingin jadi dokter.Pantaskah aku menjadi dokter hanya karena mengagumi sosok ibu caca, ah ku rasa bukan karna itu saja??. Pantaskah aku? Jika aku hanya hanya ingin jadi dokter karena mengagumi ibu caca, aku tak akan mungkin bisa menjadi dokter seperti ibu caca. Sementara ayah dan ibuku PNS yang sukses. Tapi mereka menginginkan aku sesuai dengan apa yang aku cita-cita kan mereka mendukungku, mereka bahkan menyemangati ku lebih dari yang ku tau.
 Ketika kusadari apa sebenarnya makna kesedihan yang tergambar di wajah guruku pada saat peristiwa di kelas itu, kusadari sebenarnya guruku yang satu ini menginginkan kami semua yang da di kelasku mau menjadi dokter. Namun kenyataan benar 
- benar berbeda dengan yang diinginkannya.Kusadari semua ini setelah aku hampir lulus dari SMA, ketika aku hampir memasuki masa kuliah ini. Semuanya telah direncanakan, kedua orang tuaku menyiapkan semua nya , aku akan jadi dokter seperti apa yang aku inginkan .
Keraguanku telah hilang , semuanya telah kupahami. Aku benar 
- benar ingin jadi dokter bukan hanya karena kagum pada guruku itu.

Tekadku sudah bulat, aku ingin jadi dokter walaupun di tempatkan dimana pun, walau harus mengorbankan nyawa ku, walau harus menerima konsekuesi apapun .
Tetapi jika kukatakan aku ingin jadi dokter apakah kedua orang tuaku akan bangga padaku?? Atau?? Aarggh..
aku pun mana mungkin aku berani mengecewakan mereka, hanya akulah satu 
- satunya tumpuan harapan keluargaku dan aku pula yang akan mengayomi adik kun anti sebagai kakak yang menunjukkan bakti pada orangtua ku karna aku ngga bisa berbuat banyak dan gak mungkin bisa membalas jasa mereka terhadapku.

Sebentar lagi aku masuk perguruan tinggi waaw OSPEK,
inilah yang membuatku semakin bingung. Aku akan memilih jalanku sendiri ataukah aku harus mengikuti jejak ayah ibunda ku???
Aku akan menyesal jika aku tidak menyuarakan hatiku, mengungkapakn keinginanku untuk menjadi dokter.

 Harus, aku harus bicara, kataku dalam hati.

Ketika hampir bicara dengan ibuku, aku kembali ragu.
 Benarkah yang akan kulakukan ini, pikirku dalam hati.
Tiba - tiba aku ingat ucapan ibu caca bahwa kita harus yakin dengan apa yang kita pilih.
 Kudekati ibu, kuberanikan diriku tetapi jantungku berdetak begitu kencang, aku gugup, tuhaaaan. >,<

Bunda, aku ingin bicara, kataku.

 Ada apa sepertinya kamu serius sekali, sayang 
?? kata ibundaku heran.

 Ini mengenai cita 
 citaku bunda , Aku tidak ingin jadi guru aku ingin jadi dokter, Bunda.
Aku benar 
- benar ingin jadi dokter,
menjadi pengawas dinas pendidikan ataupun guru bukanlah cita
- citaku, Bun.. kataku tergagap.

Mulanya berusaha untuk bersikap biasa tetapi akhirnya ibuku tidak bisa menutupi keterkejutannya entah apa yang dipikirkan nya.
Itu terlihat dari raut mukanya .
Ia hampir menerawang jauh, ibunda dan ayah tidak pernah melarang jika aku jadi dokter apapun itu yang penting aku berusaha belajar dan sungguh-sungguh..
yah aku adalah tumpuan harapan keluargaku karena aku anak pertama dan akan menjadi penopang bagi adik ku yang masih kecil.

 yang ku tau, jasa dokter tidak pernah diingat bahkan pemerintahpun tidak pernah memberi tanda jasa,.

Oleh karena itu,
 Akan kubuktikan bahwa dokter lebih berhak mendapat tanda jasa dibanding polisi.
Bagaimana nasib generasi kita nanti jika semua orang ingin menjadi guru dan tidak ada yang mau jadi dokter, tidak akan ada kesehatan masyarakat, perawat, bidan, gizi atau apalah tanpa dokter yang mengepalainya dan membantu nya.
 Sungguh ironis jika memandang suatu profesi ataupun jalan hidup yang kita pilih dari segi materi.
Walaupun jasa dokter tidak pernah diingat, tetapi Allah akan selalu mengingat jasa dokter, kataku berusaha meyakinkan diriku.

Ayah Ibundaku terdiam, ia kehabisan kata ia kalut juga salud akan pikiranku,.
Aku pun terdiam, ada sesuatu yang sedang bergejolak dalam hatiku. Aku merasa bersalah tetapi di sisi lain aku benar 
- benar ingin jadi dokter. Tiba - tiba terngiang kata - kata yang sering diucapkan teman-temanku kepadaku ketika aku masih sekolah dasar.

 Lidya, kamu kelak akan menjadi pengawas dinas pendidikan seperti ayah mu kan 
? kata mereka padaku.
Aku dihantam badai kebimbangan, aku sekarang bagai nahkoda kapal kehilangan kendali dan kebingungan mencari arah. Aku lari ke kamarku, aku menangis sejadi 
- jadinya.
 berdosakah aku, ya Allah, ampuni dosaku.


aku sudah menjatuhkan pilihan aku ingin jadi dokter.
Ibu caca juga pernah berkata, jika kita menyerah maka semua akan berakhir. Oleh karena itu, aku tidak pernah akan menyerah. Jangan takut dengan sesuatu yang menentangmu, ingatlah layang 
- layang terbang tinggi di langit karena menentang angin.

Di tengah kekalutanku ini, aku memutuskan untuk sholat istikhorah.
Aku harus yakin pada apa yang aku pilih. Aku ingin jadi dokter, aku tidak ingin jadi guru atau yang lainnya. Aku ingin jadi dokter seperti ibu caca yang mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk dunia masyarakat dan siswanya.

Dan sekarang aku sudah menjadi mahasiswa kedokteran .
Ada rasa bersalah di dalam hati kecilku karena aku tidak menuruti jejak langkah orangtuaku. Tetapi aku hanya dapat berdoa agar ayah dan ibuku dapat mengerti dan memahami bahwa menjadi dokter adalah tugas mulia dan inilah jalan yang aku pilih.

Langit kelihatan letih menahan awan, awan yang mengandung hujan. Tetapi aku akan tetap berjuang.
Cita 
- citaku baru saja dimulai.
Tiba 
-tiba terngiang kata - kata sinta bahwa hidup menjadi seorang dokter itu berarti harus mengorbankan dirinya sendiri masa bodo dengan diri sendiri yang terpenting hanyalah oranglain dan kadang uang yang diterima pun nihil.
Tetapi jika kita hidup hanya mementingkan materi, maka hidup ini akan menghasilkan robot 
- robot penghasil uang yang takkan pernah merasakan kepuasan bathin..
Wajah ibu caca terbayang dibenakku.
ibu caca, guru yang benar 
- benar ku kagumi dari seluruh hatiku, guru terbaik yang pernah mengajariku. Aku hanya bisa berdoa agar ibu caca dan keluarganya selalu dilimpahi rezeki -Nya.

_ ibu caca , sekarang aku sudah menjadi mahasiswa kedokteran di salah satu universitas di jakarta danakan mengabdikan diri pada masyarakat dan negara ini,teriakku dalam hati sambil tersenyum haru..

hoy.. temanku membuyarkan semua memoriku.

Akhirnya aku sampai di sini, sebuah kota besar, ibukota Negara indonesia, tempat dimana aku akan menjalankan tugas belajarku sebagai seorang mahasiswa..
yahh.. inilah duniaku, dunia pilihanku.
kota yang begitu penuh dengan padatnya penduduk namun begitu tenang bagiku, semoga aku di berikan kemudahan selalu.
Di sinilah aku akan menuntut ilmu meraih impian menuju masa depan untuk membanggakan ayah ibunda ku, membuat mereka tersenyum bangga padaku itulah harapan ku.



********
love my family..
kalian motivasi dan semangat hidup ku..
peluk, cium serta bakti anakmu..
Lidya ^^

Tuesday, June 05, 2012

"Orang Yang Mencintaimu Karena Allah"

Saudariku. . .
Sudahkah engkau menemukan seseorang yg mencintaimu karena Allah?
Orang yg mencintaimu karena Allah adalah dia yg senantiasa menyanjungmu,yg diceritakan tentang dirimu adalah yg baik saja..

lalu bagaimana dengan kesalahan, kekurangan dan keburukanmu baginya?
Bagi dirinya, kesalahanmu merupakan tugas baginya untuk membantumu memperbaiki kesalahan itu,bukannya malah menyalahkan atas kesalahan itu.Dia sadar bahwa manusia itu tidaklah ada yg benar benar kesempurnaannya karena baginya kesempurnaan itu hanyalah milik Dia yg menciptakan kesempurnaan itu,Allah AL Khalik.
 Kesalahanmu itu adalah pelajaran agar dikemudian hari tidak terjadi lagi untuk yg kedua,ketiga dan yg kesekian kalinya.

  Sesungguhnya kekuranganmu adalah kelebihan yg belum terlengkapi..
Apa yg lebih pada dirinya dijadikan sebagai pelengkap untuk menutupi kekuranganmu.
Dia telah siap menerima segala kekuranganmu sebagaimana dia telah menerima dan merasakan nikmat atas segala kelebihan yg dikaruniakan oleh Allah yg disenanginya pada dirimu seolah tiada beda baginya antara kelebihan dan kekurangan dimatanya.

 Tentang keburukanmu..
Apa yg buruk yg didapatkannya dalam dirimu, tidaklah akan pernah diceritakan aib itu pada orang lain.sebisa mungkin dia akan memberitahumu tentang keburukan itu dengan tutur kata yg santun sehingga tiada ketersinggungan yg engkau rasakan.
Yg ada pada dirimu terhadap dirinya akan membawa rasa kagum dan simpati atas perkataannya, perasaan itu memang tidaklah pasti akan engkau rasakan tapi bukannya hal itu tidak mungkin..

Bagaimana?
engkau setuju tidak dengan perkataan ini?
Marilah tanyakan pada hati yg tiada pernah mendustai diri kita.. :)